Pradna, Kritisi Pemda Dalam Musrenbang

Pemerintah Kabupaten Banyumas, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Daerah untuk tahun 2018 akhir Maret 2017 ini. Ada yang cukup istimewa kali ini. Beberapa orang perwakilan dari komunitas, diundang oleh Pemerintah Kabupaten melalui Bappedalitbang Banyumas.

Salah satunya adalah Pradna Paramita. Salah satu anggota Relawan TIK Banyumas sejak 2012 ini juga dikenal gigih mempertahakan komunitas Blogger Banyumas, meskipun anggota dan kegiatannya tak menentu.

Ia juga aktif mendampingi desa-desa di Kabupaten Banyumas dalam jejaring lingkar belajar Gerakan Desa Membangun (GDM). Ia telah menginisiasi acara #JuguranBlogger tahun 2012 dan 2016, mendukung publikasi potensi dan agenda kegiatan desa melalui website desa, hingga berhasil mengadvokasi kebijakan nasional domain internet untuk desa “desa.id” yang kini (akhirnya) diakui melalui Permen Kominfo Republik Indonesia.

Tahun 2016 lalu, Pradna bahkan didaulat untuk melakukan pemberdayaan TIK di Kabupaten Jayapura, Papua selama lebih dari satu pekan.

Sampaikan Kritik

Tentu kesempatan Musrenbang ini tidak disia-siakan. Dalam sesi tanya-jawab setelah pemaparan dokumen RKP 2018 oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas, Pradna menyampaikan beberapa hal yang selama ini menjadi kegelisahan para penggiat komunitas, terutama di Blogger Banyumas.

Pradna menyampaikan bahwa sebenarnya, dukungan masyarakat pada program dan rencana pembangunan apa pun di Banyumas tidak perlu diragukan lagi, terlebih banyak komunitas kreatif dan relawan yang bahkan tak pernah memiliki anggaran untuk kegiatannya selalu ingin membawa nama baik Kabupaten Banyumas.

contoh materi promosi kalender event seni budaya Banyumasan tahun 2017

Masalahnya justru ada pada cara dan gaya komunikasi publik Pemerintah Kabupaten Banyumas. Pradna mencontohkan, dalam hal promosi potensi wisata daerah, banyak sekali akun-akun media sosial yang dikelola oleh para penggiat komunitas yang dapat diajak bersama-sama mem-viral-kan wisata Banyumas, baik berupa obyek wisata, program wisata maupun event wisata.

Namun apa yang terjadi? Pemda Banyumas melalui Dinporabudpar, tidak membuat materi komunikasi visual promosi wisata yang menarik. Sehingga masyarakat, terutama anak-anak muda yang kreatif di Banyumas tak tertarik bahkan sampai merasa malu dengan materi promosi itu.

desainnya, luar biasa

Tak jarang pula, komunitas kreatif muda dari daerah lain bertanya, apakah Pemda tidak melibatkan komunitas? atau komunitas tidak berkontribusi pada program Pemda? Sementara kenyataan yang terjadi ketika Pemda berhubungan dengan komunitas kreatif yang pertama disampaikan adalah (1) minimnya anggaran dan (2) waktu yang terbatas.  Ujungnya sudah ditebak, ya wis, seanane.

And

Anda bisa menilai sendiri ya 🙂

Mewakili komunitas kreatif di Banyumas, Pradna berharap, kedepan komunikasi publik Pemda Banyumas dapat lebih baik dan menarik. Melibatkan komunitas-komunitas muda kreatif dalam promosi daerah juga tentu bukan hal yang tabu.

Tanda tangan Berita Acara

Entah karena kritikan pedasnya yang berani disampaikan dalam forum Musrenbang itu atau karena alasan lain, Pradna kemudian didapuk untuk menandatangani berita acara hasil Musrenbang hari itu, di depan para pejabat Pemerintahan yang hadir termasuk Bupati dan Wakil Bupati.

ini bukan tanda tangan proyek, tapi tanda tangan Berita Acara Musrenbang 🙂

Semoga, ada tindak lanjut yang baik, pasca didengarnya kritikan dan insiden tandatangan berita acara Musrenbang ini.

Tinggalkan Balasan